Rabu, 11 Februari 2015

Film: SUCKSEED


Akhir-akhir ini, masyarakat sedang heboh dengan budaya K-POP. Tapi ternyata anak muda sekarang ada juga yang sedang gandrung sam film-film Thailand. Menurut pengamatan saya, hal ini karena rilisnya film Crazy Little Think Called Love yang pemeran utamanya ganteng luar biasa. Kali ini yang saya ulas adalah film Thailand bergenre komedi yang dibintangi oleh aktor dan aktris muda Thailand yang sulit banget diingat namanya.
Suckseed menceritakan tentang perjalanan dua sahabat dalam mencari cinta mulai sejak mereka sekolah dasar. Ped, yang pendiam, ramah, penurut, bersuara jelek, dan musikalitas kurang baik harus mengalah perkara cinta dengan sahabatnya Khung, yang berisik, seenaknya sendiri, tukang atur, bersuara lumayan dan bermusikalitas tinggi. Tapi Khung harus kalah telak perkara kepopuleran dengan kembarannya sendiri, Kay yang akhir-akhir ini saya baru sadar kalau waktu manggung mirip banget kayak teman saya.
Dengan terpaksa, Ped harus mengikuti kemauan Khung untuk mengikuti lomba band nasional untuk menandingi kepopuleran Kay bersama Ex dan Earn, wanita incaran Khung dan Ped. Belum masuk seleksi, Earn dikeluarkan karena menolak cinta Khung. Saat itulah, mereka memberi nama band mereka Suckseed berharap ketidakberuntungan mereka akan berhenti sampai disitu.
Saat final, persahabatan mereka tercerai berai karena Ped ketahuan berpacaran dengan Earn. Dan semua membaik beberapa tahun  kemudian saat mereka reuni.
Film ini menjatuhkan sasaran pada para pelajar sekolah menengah yang lagi heboh-hebohnya nge-band dan cinta-cintaan. Film ini dikemas apik dengan guyonan yang khas dan saat backsong dinyanyikan, selalu ada penyanyi aslinya. Film ini saya rekomendasikan untuk orang-orang yang sedang galau butuh hiburan dan ketawa-ketawa.

Film: RISE OF THE GUARDIANS


Dream Works Picture bikin heboh dengan dirilisnya film Rise of The Guardians pada tahun 2012. Film ini mengisahkan sisi lain dari para legenda yang hingga saat inu tak pernah diketahui keberadaannya. Peri gigi yang lincah dan cenderung agresif ketika melihat gigi yang bagus, Santa yang ternyata dibantu oleh Yeti dan makhluk-makhluk seperti lonceng bukan kurcaci, Kelinci paskah (Bunny) yang kekar dengan otot menonjol di mana-mana, dan Sandman yang tak pernah ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Jack Frost, sesosok ‘hantu’ yang gentayangan dengan bebas dan penuh kesenangan bersama kekuatan ‘beku’-nya ternyata telah dipilih oleh Lelaki Bulan sebagai Guardian melengkapi empat Guardian yang sudah ada lainnya. Alasan Lelaki Bulan memilih Jack Frost karena para Guardian membutuhkan kekuatan tambahan untuk melawan Pitch, sang legenda kegelapan.
Kekuatan para Guardian akan bertambah apabila banyak anak di dunia yang mempercayai Guardian dan kekuatan Pitch akan semakin bertambah jika banyak ketakutan dan banyak yang percaya adanya Pitch. Kekuatan Pitch semakin bertambah besar ketika ia menguasai kekuatan Sandman dan mempengaruhi semua anak di dunia. Kekuatan para Guardian melemah, anak-anak lebih percaya pada Pitch dari pada para Guardian. Peri gigi tak lagi bisa terbang, Santa tak lagi sekuat biasanya, dan Bunny berubah jadi anakan kelinci.
Saat terpuruk itulah, Jack Frost mengetahui jati diri yang sesungguhnya saat ia hidup dahulu. Dan saat itulah, hanya satu oranglah yang percaya dengan adanya Guardian. Yaitu, Jamie. Diakhir cerita, Jamie dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan Pitch dan mengembalikan kehidupan Sandman sebagai pembawa mimpi indah.
Saya paling suka quote-nya Bunny: “I’m not a rabbit. I’m a BUNNY” Untuk ukuran kelinci kecil it’s ok, tapi Bunny bulang gitu dalam keadaan berbadan kekar dan penuh otot.
Film ini memunculkan tokoh legenda baru yang masih segar dan keren, Jack Frost. Mungkin legenda serupa sudah ada di beberapa negara, tapi saya belum tahu pastinya. Film ini saya rekomendasikan  untuk anak-anak diatas sembilan tahun.

Film: THE RAID REDEMPTION


The Raid adalah salah satu contoh film Indonesia yang bisa menembus Box Office berdampingan dengan Final Destination, The Hunger Game dan Fast and Furious. Film yang rilis pada tahun 2012 ini bisa dikatakan full-of-blood, efek-efek darah yang ditampilkan terlihat sangat nyata dan bisa membut orang hilang nafsu makan. Kalau saja ada genre film very dangerous and great action, fim ini bakal masuk genre itu. Film yang diproduksi oleh Merantau Films Production ini dibintangi oleh aktor laga Indonesia seperti Iko Uwais, Joe Taslim, dan Yayan Ruhian.
Diceritakan seorang agen SWAT bernama Rama (Iko Uwais) mendapat tugas dari atasannya, Bowo (Tegar Satrya), untuk menyeret pentolan semua kejahatan, Tama (Ray Sahetapy), di apartemen miliknya yang menjadi markas buronan kejahatan bersama pletonnya yang dipimpin oleh Jaka (Joe Taslim). Markas tersebut ternyata bukanlah markas biasa yang hanya bermodal CCTV atau satu pleton aparat penjaga. Markas ini terkoordinasi, semua orang—bahkan anak-anak—boleh memiliki dan menggunakan senjata kalau ada polisi yang menyerbu. Seolah pusat kendali memerintahkan jika polisi masuk wilayah, jangan sampai ada yang keluar hidup-hidup, bahkan sopir bus mereka.
Kekuatan tim penyerbu melemah, Jaka selaku komandan meminta izin pada Letnan Bowo untuk memanggil Back up. Dan ternyata, penyerbuan mereka hari itu adalah penyerbuan ilegal akal-akalan Letnan Bowo untuk membalas dendam pada Tama yang tak berhak mendapat back up. Suasana makin panas ketika penontonmengetahui bahwa salah satu dari tangan kanan Tama, Andi (Doni Alamsyah), adalah kakak kandung Rama. Tama yang mengetahui hal itu langsung mengutus Mad Dog (Yayan Ruhiyan) untuk memberi pelajaran pada Andi.
Akhir cerita, dari sekitar dua puluh orang pasukan yang masuk ke sarang penjahat, hanya tiga orang yang selamat. Rama, Wahyu, dan Letnan Bowo. Awalnya saya kira Jaka bakal selamat, ternyata dia mati ditangan Mad Dog. Tama juga mati, kena tembak senjata Letnan Bowo.
Film ini patut diacungi ribuan jempol. Mulai dari aktor, sutradara, orang yang bikin efek-efek, sampai orang yang kerjanya Cuma nge-gulung kabel pun pantas dapat jempol itu. Saya rekomendasikan film ini untuk usia lima belas tahun keatas.

Buku: SISTER RED


Dari judulnya kita pasti penasaran bagaimana alur cerita dari buku ini. Apakah pemarean utama dalam buku ini menyukai warna merah? Atau mereka berwarna merah? Atau bahkan berhubungan dengan—darah? Jackson Pearce, akan membawa kita pada dongeng legendaris Si Tudung Merah, yang dipopulerkan oleh Grimm bersaudara.
Dikisahkan kakak beradik bernama Scarlett dan Rosie yang hanya tinggal bersama nenek mereka ditengah—mungkin lebih tepat disebut—hutan. Ayah dan ibu mereka entah dimana dan mereka hanya memiliki beberapa tetangga yang jarak antarrumah tak bisa dikatakan cukup dekat. Hidup mereka begitu tentram, hingga tiba suatu masa saat banyak beredar kabar tentang banyaknya gadis yang mati atau hilang misterius.
Suatu hari, rumah kecil mereka di daerah Ellison di datangi seorang pria yang terlihat lapar. Dan kalian tahu siapa dia? Dia adalah Fenris. Fenris biasa kita sebut dengan warewolf atau manusia serigala. Tak seperti warewolf yang berubah saat bulan purnama saja, Fenris ini dapat berubah jika mereka sedang ‘lapar’. Fenris pemakan gadis dengan look yang aduhai, menyukai wanita berpakaian merah, dan sendirian.  Biasanya korban Fenris ini akan langsung dimakan jika ia kelaparan, tapi akan diperkosa jika ia ‘lapar’ akan hal lain dan dibunuh setelahnya.
Fenris merekrut ‘anggota’ dengan banyak syarat. Salah satunya adalah calon anggota merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara dan hanya akan menjadi Fenris jika digigit tepat saat Bulan Darah.
Scarlett dan Rosie berhasil selamat, namun tidak dengan neneknya. Mereka tumbuh bersama dengan luka menganga di mata Scarlett akibat cakaran Fenris yang membuat dia dikucilkan oleh teman sekolahnya. Kedua kakak beradik ini sekarang memiliki pekerjaan baru sejak kejadian yang menewaskan nenek mereka, memburu Fenris.
Buku ini menggunakan dua PoV yang bisa membuat pembaca lebih memahami apa yang dipikirkan dua bersaudara ini. Dalam cerita ini muncul tokoh Silas, teman main Scarlett, orang yang mencintai dan dicintai oleh Rosie, namun dia juga merupakan calon Fenris.
Buku ini saya rekomendasikan pada teman-teman yang menyukai buku horor-fantasi. Penulis menceritakan semua dengan jelas, dengan bahasa umum, namun tetap dikemas dengan apik dan menarik. Banyak jempol untuk penulis.

Buku: NEGERI PARA BEDEBAH


Darwis ‘Tere Liye’, penulis fenomenal abad ini berhasil menciptakan karya seni yang, bisa dibilang, menjadi referensi buku para pelaku perbankan dalam bertindak. Negeri Para Bedebah, awalnya saya agak senewen baca judulnya, kok gini banget. Tapi setelah saya baca bukunya, saya baru sadar kalau negeri ini penuh dengan para bedebah yang hanya meraup keuntungan tanpa memikirkan kerugian bagi orang lain.
Thomas, seorang konsultan ekonomi muda yang mendapat dua gelar sarjana bisnis terkemuka sekaligus, mendapati kenyataan bahwa pamannya, Liem, tersangkut kasus perbankan yang sangat akut. Liem hendak ditahan karena pencucian uang, namun Thomas membawanya kabur. Saat itu, kuasa ada ditangan Thomas dan dia hanya memilliki dua pilihan. Pertama, bank milik Liem ditutup, surat piutang dilelang, dan uang nasabah tak kembali sama sekali. Kedua, bank diberi semacam pinjaman dari negara, kepemilikan dilelang, dan uang nasabah kembali beberapa persen saja (bagi yang memiliki rekening diatas dua milyar).
Beberapa petinggi pemerintahan yang iri dengan keadaan perbankan Liem menghasut petinggi keuangan negara untuk menutup saja bank milik Liem, tapi mereka tak sadar dengan efek kedepan yang akan berdampak pada keadaan bank-bank lainnya. Dengan sekuat tenaga, Thomas dan Julia, wartawan yang tanpa sengaja ikut dalam urusan ini, berusaha meyakinkan Menteri Keuangan agar tak menutup bank tersebut.
Fakta yang mengejutkan, Thomas selalu membenci Liem. Thomas selalu menyalahkan Liem perihal kematian kedua orang tuannya dan semua kejadian yang terjadi belasan tahun lalu. Mengenai bank tersebut, Thomas hanya ingin menyelamatkan bibi dan kakeknya dari hal yang tak ia inginkan.
Buku ini mengulas sisilain para penjabat dan petinggi kepolisian yang terlihat manis di depan, tapi di belakan mereka sudah siapkan ratusan anak buah untuk menghancurkan para penghalang. Buku ini dikemas apik dengan sedikit guyonan khas penulis. Seperti saat Thomas dan Julia kepergok polisi berhenti di jalan tol karena berdebat masalah Liem, mereka langsung menyamar menjadi sepasang kekasih telenovela yang sedang bertengkar, Esmeralda dan Fernando. Buku ini salah satu buku action yang bisa membuat pembaca berasa seperti ikutan adu jotos. Saya harap penulis bisa lebih produktif menghasilkan buku-buku yang bernilai moral dan kaya akan ilmu seperti ini.

Rabu, 04 Februari 2015

Buku: ALLEGIANT



Sebelumnya saya ucapkan, sebagian isi posting ini pernag di muat di http://ifnurhikmahofficial.blogspot.com/2014/03/review-buku-6-allegiant-by-veronica-roth.html

***

Welcome to Allegiant, 3rd and final book from Divergent series.
Di akhir buku dua, Insurgent, kita dibuat penasaran oleh siapa itu Edith Prior. Di video itu Edith mengatakan tentang kehidupan di luar compound dan mengajak siapa saja untuk tinggal di sana. Video itu membuat beberapa orang yang masih percaya kepada kehidupan dalam bentuk fraksi, dan menolak kehidupan tanpa fraksi dengan Evelyn sebagai pemimpin, membentuk Allegiant, yang dipimpin oleh Cara dan Johanna Reyes.
Dan, Tris serta Tobias tergabung ke dalam kelompok ini.
Allegiant dibagi dua, mereka yang pergi keluar compound untuk mencaritahu maksud video Edith Prior, dipimpin oleh Cara, dan mereka yang tinggal untuk merencanakan perlawanan terhadap factionless tyrant, dipimpin oleh Johanna Reyes. Tris, Tobias, Caleb, Christina, Uriah, Peter, Tori, dan satu anak Erudite yang gue lupa namanya, bergabung dengan Cara. Dibantu oleh Johanna Reyes, mereka berusaha keluar dari compound. Sayang, ada satu yang terpaksa mati, Tori.
Mereka pun berhasil sampai ke Bureau of Genetic Welfare. Sebelum sampai di sana, mereka bertemu dua orang dari Bureau, Zoe dan Amar. Dan, kehadiran Amar membuat Tobias kaget karena setahu dia Amar mati karena ketahuan Divergent (Amar ini mentor Tobias waktu inisiasi pas masuk Dauntless).
Mereka pun akhirnya bertemu pimpinan Bureau, David, yang juga mengetahui masa lalu Nathali Prior alias ibu Tris. Dan Tris mengetahui siapa sebenarnya ibunya.
Oke langsung aja ke ending, banyak yang kecewa dengan ending yang sedih dan tragis ini. Tapi bagi sebagian pembaca, ending yang tak biasa itu lebih keren dari pada happy ending. Awalnya juga bingung sebenarnya gimana ending sebenarnya. Setelah baca beberapa artikel, ternyata endingnya Tris mati, dibunuh David saat mencoba menyusup dalam gudang senjata. Tobias larut dalam kesedihan dan keterpurukan, hingga dia sempat ingin meminum serum memori agar bisa melupakan semua kenangannya dengan Tris.
Buku ini keren dengan segala sudut pandangnya. Buku ini luar biasa dan menjadi rekomendasi baki penggila buku seantero dunia.